Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan untuk mengenang Pertempuran Surabaya 1945 yang merupakan salah satu pertempuran paling heroik dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pertempuran besar ini pecah setelah rakyat Indonesia menolak ultimatum pasukan Inggris (Sekutu) yang berusaha merebut kembali Indonesia. Penetapan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan diresmikan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959.
Bagi para pemuda, pemudi, serta rekan-rekan wartawan, peringatan Hari Pahlawan 10 November tidak hanya dimaknai sebagai momen untuk mengenang jasa para pejuang, tetapi juga sebagai refleksi diri agar semangat kepahlawanan tetap hidup di tengah perubahan zaman. Dunia kini bergerak sangat cepat, terutama dengan kehadiran teknologi yang mengubah hampir seluruh tatanan kehidupan dan memberi nuansa baru dalam setiap sendi aktivitas manusia.
Pertanyaannya, bagaimana agar kita tidak tertinggal dan mampu mengikuti arus perkembangan teknologi yang begitu cepat? Siapa pun yang mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi akan mendapatkan nilai positif, sementara yang enggan beradaptasi perlahan akan tersingkir. Namun, di tengah perubahan besar itu, sebagai makhluk sosial kita perlu mempertahankan tiga hal yang tidak akan tergantikan oleh mesin, yaitu kreativitas, inovasi, dan hubungan baik.
Pekerjaan yang bersifat rutin dan berhubungan dengan otomasi memang akan banyak tergantikan oleh teknologi, tetapi tiga hal tersebut akan selalu menjadi kekuatan utama manusia. Nilai-nilai inilah yang harus dijaga dan dikembangkan agar manusia tetap memiliki peran penting dalam dunia modern yang semakin digital.
Novendri Yusdi, S.H. selaku pembina Aliansi Wartawan Se Jawa Timur (AWAS) di Kediri menyampaikan bahwa profesi apapun, termasuk Advokat, Pengacara, maupun Penasehat Hukum, dituntut untuk melek teknologi. Salah satu perkembangan besar yang perlu dipahami adalah kemunculan AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan yang kini banyak membantu pekerjaan manusia, termasuk di bidang hukum.
AI bekerja dengan menggunakan data dan algoritma untuk memahami pola, membuat keputusan, dan belajar dari pengalaman. Dalam konteks hukum, kecerdasan buatan mampu membantu pengacara dalam menganalisis kasus, menyusun dokumen, hingga memberikan solusi berdasarkan data hukum yang ada. Bahkan, calon klien kini dapat dengan mudah mencari layanan hukum hanya dengan mengetik kata kunci seperti pengacara di Sidoarjo, pengacara Surabaya, atau bantuan hukum di mesin pencarian Google.
“Apapun profesinya, termasuk Advokat, Pengacara, dan Penasehat Hukum, harus melek teknologi. AI memang membantu pekerjaan, tetapi nilai kemanusiaan dan hubungan sosial tetap yang utama,” ujar Novendri Yusdi, S.H..
Melalui semangat Hari Pahlawan 2025, kita belajar bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan di medan perang seperti para pahlawan dahulu. Di era modern ini, menjadi pahlawan dapat diwujudkan dengan cara yang berbeda — melalui inovasi, kontribusi positif, dan kepedulian terhadap sesama di tengah kemajuan teknologi yang begitu pesat.
Pesan penting dari Novendri Yusdi bagi generasi muda dan insan media adalah agar tetap mempertahankan nilai perjuangan, integritas, dan semangat pantang menyerah. Sebab, semangat itulah yang akan menjadi warisan abadi dari para pahlawan bangsa kepada generasi penerusnya di era digital ini.



